The Presence of God.
Alright, gue baru aja selesai menterjemahkan sekaligus membacakan kedua orangtua gue beserta adik laki-laki gue, yaitu sebuah pesan dari Tuhan kepada Richard Teo, seorang dokter ahli bedah plastik berusia 40 tahun dari Singapore, sekaligus merupakan milyuner bermobil Ferrari.
Dr. Richard Teo Keng Siang, at his prime.
Pertemuannya dengan Tuhan sangat singkat, namun rumit dan melewati banyak penderitaan, hanya beberapa waktu sebelum ia berpulang ke rumahNya.
Dan gue mikir, gue harus share ini ke lo semua, pembaca-pembaca yang juga sepantasnya mendengar sebuah kabar baik seperti ini.
Alkisah, dokter Richard ini berasal dari keluarga yang nggak mampu, dan selalu ditanamkan oleh orangtuanya, sebuah paradigma dunia yang mengatakan bila lo pengen bahagia, lo harus sukses. Nah, sukses itu artinya pas lo udah jadi kaya raya. Jadi, sepanjang hidupnya, dr. Richard berpandu pada motto tersebut.
Dia adalah sejenis overachiever gitu, yang selalu berusaha untuk jadi, literally the best in every single aspects. Selalu berkompetisi untuk segalanya, selalu berusaha mencapai puncak keberhasilannya. Bagus sih, tapi semuanya sia-sia sampai pada saat dia merasakan sakit di punggung yang intens selama beberapa saat, pas dia lagi ngegym di gym langganannya. Dia juga adalah gym freak yang bisa ampe 6 kali seminggu nge-gym. Angkat beban, lari2 di treadmill, squat, etc.
Karena sakitnya mulai mengganggu aktivitas dia sehari-hari, dia konsul ke dokter.
Keluarlah diagnosis bahwa dia mengidap kanker paru-paru stadium 4B.
Nah, semua udah pada tau kan yah kalo namanya kanker itu ada stadium-stadiumnya berdasarkan tingkat penyebaran dan mutasi sel kanker itu sendiri? Stadium 1-2 itu masih bisa disembuhin dengan chemotherapy atau obat-obatan yang menghambat mutasi sel kanker, yaah intinya masih ada chance untuk sembuh total. Mungkin sekitar 60-70%, bahkan 100% kalo emang terdeteksi sejak dini.
(Gue bisa dengan yakin bilang begini kerena gue kenal temen nyokap gue yang kena kanker serviks, dan dia masih hidup ampe sekarang walaupun rambutnya jadi rontok (mukanya masih cantik sih...) karena pengaruh kemoterapi, termasuk terapi radiasi yang notabene membunuh semua sel-sel tubuh kita juga, contohnya sel tanduk berupa rambut, et cetera. Dan membuat daya tahan tubuh kita labil banget. Kalo lo nonton 50:50 yang tokoh utamanya Joseph Gordon-Levitt, pengidap kanker tulang belakang, yang muntah-muntah tiap malem abis kemoterapi. Insomnia, nafsu makan turun, jadi kurus kering, ditambah depresi, rasa tertolak, penyangkalan, ketidakstabilan emosi, dan masih banyak lagi. Itu aja mungkin masih stadium 2 apa 3 gitu. Tapi yah, dia sembuh total pada akhirnya. Pokoknya, penderitaannya gak sepele, teman-teman. Bahkan kalo menurut gue, penderitaannya itu lebih kearah secara psikologis. Soal muntah2 dan penderitaan fisik mah, yaa, kan ada obat. Tapi ketika lo mengetahui adanya kemungkinan bahwa exactly lo akan mati sebentar lagi karena penyakit kaya gini, itu...berat. Berat mengakuinya. Beban mental yang nggak main-main. Gue salah satu orang yang takut ngomongin tentang kematian orang-orang terdekat gue, atau kematian gue sendiri, tepatnya kalo emg bisa milih gue pengen mati dalam tidur aja. Nggak dalam kondisi tubuh yang menderita penyakit kronis kaya gitu. Amin.)
Kalo yang stadium 4B sih, yah, udah stadium akhir. Bisa dibilang chance lo buat sembuh itu cuma 5-10%, dan itu adalah kondisi di mana sel kanker sudah menyebar kemana-mana. Dalam kasus ini, dr. Richard Teo udah nggak punya jalan lain lagi secara ilmu kedokteran saat ini. Dia kudu terapi radiasi dan lain-lain.
Dia depresi, dia sulit mempercayai hal ini, kaya pengidap kanker lainnya. Kenapa gue? Gitu. Tapi Tuhan emang baik. Tuhan berbicara kepadanya, dalam berbagai cara. Salah satunya, pas dia lagi di atas meja operasi, nungguin suster ngelanjutin pemeriksaan X-ray.
Pas dia lagi menatap langit-langit ruang operasi yang dingin, sendirian, sepi, tiba-tiba dia mendengar suara dari dalam hatinya sendiri.
This has to happen to you, at your prime, because it’s the only way you can understand.
Ini harus terjadi padamu, pada saat keemasanmu, karena ini adalah satu-satunya cara untuk membuat kamu mengerti.
Saat itu dia nggak ngeh, dia kira itu suara hatinya sendiri, walaupun dia nyadar sebenernya, kalau suara hati nggak mungkin ngomong dalam sudut pandang orang ketiga. Pasti sudut pandang orang pertama dong, misalnya kalo kita mau makan, hati kita bakal bilang kaya gini, "Abis ini mau makan malem dimana ya?".
Gitu. Ya, singkat cerita, dia mulai tergerak hatinya untuk percaya, pas dia lagi ganti baju dan tiba-tiba dialiri perasaan damai sejahtera tanpa alasan. Waktu itu, dia lagi mau siap-siap ke dokter untuk periksa MRI, dan saat itu pukul 2 siang.
Dia kaget dong, kenapa nih gue? Dia langsung curcol sama temen2 di Whatsapp nya, dan temennya, drg. Danny ngomong.
"Kita itu doa puasa buat lo, 2 hari. Dan jam 2 siang tadi, gue baru selesai puasa."
Nah, you get it?
Tapi, itu masih belum cukup untuk membuat dia percaya. Bahkan, pas hasil MRI nya jadi jauh lebih mendingan, bahkan kenyataan bahwa dia positif punya EGFR (semacam kemampuan sel somatik untuk bermutasi melawan lung cancer), nggak bisa bikin dia sepenuhnya percaya. Dia juga sebenernya kaget pas tau gigi geraham bungsunya yang di rahang bawah nggak pernah ada (suatu anomali medis yang jarang banget terjadi), pas mau cabut gigi karena obat kankernya, Zemota, bisa bikin tulang rahangnya kopong. Kenapa harus dicabut juga giginya? Ga tau, gue ga ngerti, tanya bu dokter gigi...
Belum cukupkah mukjizat itu untuk membuat dr. Richard bertobat? Belum.
Sampai akhirnya, Tuhan berbicara dengan sang dokter lewat mimpi.
Di mimpi itu, dia dikasih ayat Ibrani 12:7-8.
Dia kan nggak pernah buka Alkitab, walaupun pernah dibaptis 20 tahun lalu atas dasar ikut2an temen, jadi dia nyari tuh di Alkitab baru dari drg. Danny yang belum pernah dia buka. Bahkan sang dokter nggak tau Ibrani itu ada di Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru. Dia kira lama, karena "Ibrani" terdengar ancient; kaya kuno2 gitu. Nah, akhirnya dia ketemu isi ayatnya.
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
Ibrani 12:7-8
Akhirnya, dr. Richard berseru. "YOU WIN! YOU WIN!!!"
Akhirnya, ia mengakui keberadaan Allah, BapaNya yang hidup. Sejak saat itu, sebelum meninggal, dr. Richard Teo tergerak untuk memotivasi pengidap kanker lainnya. Karena ia mengalami penderitaan mereka, lebih gampang baginya buat ngomong. Kalo nggak pernah kan, pasti dianggap asal bunyi.
Dan akhirnya, tulisan ini sampai di depan matamu, yang lagi baca postingan ini.
Pesan yang saya tangkap di sini adalah, kita beruntung, temen2, kita nggak perlu menderita seperti dr. Richard. Kita masih muda, kita sehat walafiat, kita punya banyak waktu. Banyak banget waktu. Tuhan baik, temen-temen. Berbahagialah temen-temen yang udah kenal Tuhan, berbahagialah temen-temen yang mungkin belum mengenal Tuhan, tapi bisa diberikan kesempatan untuk membaca tulisan gue ini, atau mendengarkan kesaksian sang dokter lewat video yang ada di website dr. Richard Teo.
Kita udah mengenalNya, udah hidup denganNya. Dan kita, memang sudah diselamatkanNya sejak kita dilahirkan ke dunia ini. Ya, kita dipilih olehNya, bukan kita yang memilihNya. Kita umat pilihan, temen-temen. Segala sesuatu sudahlah digariskan oleh Tuhan dari detik pertama sperma berdifusi ke ovum di rahim ibu kita masing-masing. Tuhan Yesus, yang telah mati dan bangkit kembali, dan naik ke Kerajaan Surga, udah kenal sama kita sejak kita masih gumpalan zigot atau morulla yang masih nggak terlihat mata telanjang. Beruntunglah, temen-temen yang udah punya kesempatan untuk hidup normal sebagaimana mestinya, seperti saya ini.
Percayalah, temen2 yang baik. Pembaca-pembaca yang baik.
Yes, there is no such thing like coincidence.
Nggak ada yang namanya kebetulan. Bukanlah merupakan kebetulan lo mampir ke blog gue, dan baca tulisan ini sampai selesai, atau cuma separuh, atau bahkan cuma ngeliat terus close tab karena judulnya terlalu rohani.
Saya, Adrienne Novira, di sini cuma bisa nyebarin kabar baik yang memang sudah tugas saya sebagai murid Yesus, yaitu memberitakan firman Allah. Dalam hal ini, saya hanya meneruskan pekerjaan sang dokter dengan cara menulis review singkat (atau panjang?) mengenai kesaksian dari dr. Richard Teo, yang udah bersaksi terlebih dahulu kepada banyak orang sebelum ia meninggal. Kalau mau baca lebih detail, baca di sini atau nonton video ini aja. Semuanya dalam Bahasa Inggris, yah temen2 kan pinter pasti bisa baca kok, Bahasa Inggrisnya ditulis oleh seorang Singaporean, jadi yah lumayan enak dibacanya hehe.
Untuk menutup post ini, saya share satu gambar beserta quote dari dr. Richard sendiri.
Untuk menutup post ini, saya share satu gambar beserta quote dari dr. Richard sendiri.
So, what are you waiting for? God always there for you, at all times! And yes, He is coming for us, soon. A good chance may not come twice in a lifetime. :)
God bless you, my beloved readers! ♥


Comments
Post a Comment