Semua Karsa Cinta, Bukan Karyaku.

...

Ngapain, sih, kamu datang lagi ke sini? Pergi sana jauh-jauh...

Apa artinya, kasih tak sampai. Tidak berbalas. Aku mulai muak melihat wajahmu.
Semua sia-sia, kehilangan makna. Lebih baik, aku bakar semua sisa kenangan yang membekas.

Semua ini untukmu, Sayang, mengapa engkau tak kunjung mengerti? Aku lelah.

Aku lelah dipermainkan. Aku lelah diduakan, ditinggalkan, ditarik ulur. Aku bukan tali tambang yang kau mainkan saat perayaan Dirgahayu RI. Lebih baik kau potong-potong diriku seperti Planaria.

Aku bukan selembar saham Forex yang bisa kau beli dan kau jual lagi lebih mahal. Bukan. Like seriously.

Aku wanita, ya, aku wanita! Aku punya hati, aku punya perasaan!

Katamu, kau akan terus menjadi sahabatku, mana janjimu? Bukan ingin menagih, tetapi rasanya sakit dibuang begitu saja. Kau bilang, kau akan kembali, sekarang entah di mana hatimu, mungkin sudahlah berpindah pada wanita lain.

Yo wis, sak karepmu, nak...

Mengapa begitu sulit bagi sepasang pria dan wanita yang bersahabat, untuk tidak saling jatuh cinta? Dan mengapa betapa sulit menjalin persahabatan yang murni dan tulus, bila salah satunya mencintai pasangannya lebih dari sekedar sahabat?

Mengapa begitu seringkali pula, orangtua memberitahu kita untuk terlebih dahulu berteman, padahal sebenarnya itu hanya membangun tembok "persahabatan" di antara kita dan pasangan kita yang kita kasihi segenap hati, seperti ini?

Pasti ada suatu ganjalan di hati masing-masing, karena perasaan salah satu dari kita, dalam kasus ini, aku, tidak murni, namun terdapat keinginan untuk mencintai dan memiliki? Untuk sekedar memeluk lebih lama, kecupan di kening yang lembut, atau sekedar menggandeng tangannya yang sedikit kasar namun tegap?

Namun yang terjadi adalah, seringkali, ia tidak mencintai kita apa adanya, tidak seperti kita mencintainya. Mengapa?

Sampai detik ini aku masih belum juga mampu menemukan jawabannya. Yang kutahu, aku mencintainya. Sahabatku. Teman sepermainanku. Seperjuanganku. Seniorku. Teman curhatku. Guru pianoku. Pria yang selalu ada bila kucari. Pria yang bisa kupeluk kala aku sedih. Pria yang akhirnya mengucapkan salam perpisahan untuk selamanya dengan sebuah kecupan lembut di keningku.

Sulit bagiku untuk melupakannya. Sulit sekali.
Lebih sulit daripada memasukkan seekor unta ke dalam lubang jarum. Mungkin analogiku tidak begitu cocoklah dengan seuntai peribahasa umat Israel yang terkenal itu, namun betapa sulit untuk sekedar mengusirnya dari kekelaman hatiku. Kegelapan hati yang dingin, membeku, yang membuatku bahkan tidak bisa sekadar meringankan derita ini dengan cara menangis. Aku tak mampu. Hatiku telah hancur. Hilang separuh.

Aku begitu mencintainya. Aku menginginkan dirinya.

Sepenuh hatiku masihlah berharap, kelak ia akan kembali.

Aku ingin memeluknya sekali lagi, menciumnya, menggandengnya di bawah terang rembulan yang menerangi gelapnya jalan. Menatap matanya sekali lagi. Merekam semua sorot matanya yang begitu menusuk tajam, begitu dalam ke dasar hatiku. Aku ingin memotretnya tertawa lepas, aku ingin merekamnya berbicara. Bernyanyi. Bermain piano atau gitar. Merekam segala gerak-geriknya secara mendetail. Kau boleh berkata aku gila, namun aku telah merekam semuanya, bahkan percakapan pendek kami, suara kami bernyanyi lagu bersama diiringi gitarnya di jalanan seperti tukang ngamen jalanan. Tak bisa kulepas semua itu, semuanya terlalu berharga. Begitu juga dengan foto-foto candid yang kuabadikan lewat kamera Blackberry-ku, juga oleh lensa kamera Canon 500D adikku.

Aku ingin dicintai. Aku ingin ia menginginkanku seperti aku menginginkannya.

Aku tidak tahu sebenarnya apa sumber perasaanku ini, apakah hanya sebuah cinta monyet anak-anak muda berumur belasan tahun, atau sebentuk hasrat dan nafsu, cinta Eros, Philia, atau Storge.

Atau memang murni cinta Agape. Pemberian Yesus Kristus. Cinta tanpa syarat, anugerahNya yang nyata dan hidup.

Aku hanya bisa meratapi kepergiannya yang memilih studi tanpa diganggu hal-hal remeh seperti wanita pendamping, ya, aku memang hanya penghalang baginya. Aku kecewa mengetahuinya. Aku hancur. Ironisnya, aku menyetujui alasan itu, sekaligus membencinya. Aku memang wanita yang menjunjung tinggi pendidikan di atas segala urusan-urusan dalam kehidupan.

Namun kali ini rasanya ia hanya berdalih, mengingat usianya sudah hampir berumur dua puluh tahun, sudah hampir dewasa. Bukanlah alasan yang pantas lagi untukmu, betulkah itu? Perlukah kusebut namamu sekarang?

Mungkin, pada kenyataannya engkau hanya kehilangan segenap perasaanmu terhadap diriku. Yang mungkin telah bertindak terlalu agresif sehingga membuatmu risih dan jijik. Selalu mencari celah yang ada untuk mendekatimu. Entah kegiatan gereja, entah kegiatan sekolah. Kuakui itu semua terjadi di luar logikaku.

Maaf, aku memang menjijikan. Buang saja ke tempat sampah.

Tuhan, sekiranya bila kau berkehendak, kabulkanlah permohonan hambaMu yang hina ini, kembalikanlah apa yang pernah menjadi milikku. Dirinya. Ke pelukanku. Ke tanganku. Menjadi milikku sekali lagi, kali ini, untuk selamanya.

Bila Engkau mengizinkan aku untuk menembus ruang dan waktu, aku akan pergi, pergi jauh merantau ke masa lalu, ketika aku masih bisa bercanda tawa dengannya, berpelukan begitu erat, dan menatap mata masing-masing dalam diam, di atas pembaringannya, tanpa melakukan hal lain. Hanya diam menatap.
Hanya kami berdua.

Sekarang, aku hanya bisa menatap wajahnya dari jauh...

Ketakutanku telah menjadi kenyataan. Kau pergi, tak kunjung berpulang.

Yang tersisa hanyalah raut wajahnya yang kembali kaku, tak kunjung mengulas senyum di bibirnya, tatkala ia bermain dengan keyboard nya di gereja kami.

Hanya seucap kata Shalom dan Tuhan memberkati tiap hari Minggu.

Hanya itu.

Mungkin ini akan menjadi hari terakhir, untuk hatiku mencintainya. Mungkin tidak, dengan melupakan cara berpikir kedua belah otakku yang selalu berpikir secara konvensional dan kaku, dan tidak mengenal toleransi.

Kau tahu? Karya-karya dalam blog ini tidak akan terbentuk bila tidak ada cinta di antara kita.

Semua karsa cinta, bukan pikiranku. Semua tiada bila engkau tidak pernah mencintaiku.

Kamu inspirasiku, Sayang. Kau separuh hidupku, seluruh perasaanku.

Aku mencintaimu seperti ini.

Tak akan pernah berubah.

Comments

Popular Posts